Hiperpigmentasi Bukan Takdir! Begini Cara Menghilangkan Flek Hitam dengan Tepat

Hiperpigmentasi Bukan Takdir! Begini Cara Menghilangkan Flek Hitam dengan Tepat

Hi, The One! Pernah nggak sih, kamu menemukan bercak gelap atau flek hitam di wajah atau tubuh dan langsung merasa khawatir? Tenang, kamu nggak sendirian! Hiperpigmentasi adalah masalah kulit yang cukup umum dan bisa dialami siapa saja, baik pria maupun wanita, terutama di usia 25 hingga 35 tahun, saat perubahan kulit mulai lebih terlihat.

Sebenarnya, Hiperpigmentasi Itu Apa?
Hiperpigmentasi terjadi saat melanin, pigmen yang memberi warna pada kulit, diproduksi secara berlebihan sehingga menyebabkan area tertentu menjadi lebih gelap dibandingkan warna kulit alami. Selain hiperpigmentasi, ada juga kelainan pigmentasi lain, seperti:

  • Hipopigmentasi → Bintik terang akibat produksi melanin yang lebih sedikit
  • Depigmentasi → Bercak putih akibat kehilangan pigmen secara total

Melanin punya peran penting! Selain memberi warna pada kulit, melanin juga berfungsi sebagai pelindung alami dari efek buruk sinar ultraviolet (UV). Sayangnya, ada banyak faktor yang bisa memicu hiperpigmentasi tanpa kita sadari.

Jenis-Jenis Hiperpigmentasi yang Wajib Kamu Tahu

1. Tanda Penuaan (Age Spots) 

Sering disebut liver spots, tanda ini berbentuk bercak makular berukuran 1-3 cm, berwarna kuning muda hingga cokelat gelap, dan biasanya lebih besar dibandingkan flek hitam biasa. Penyebab utamanya? Paparan sinar matahari! Umumnya muncul di wajah, lengan bawah, dada, dan punggung tangan, terutama pada orang berkulit putih dan Asia.

2. Melasma

Melasma adalah hiperpigmentasi akibat hormon yang sering terjadi pada wanita usia 20-an hingga 30-an. Faktor pemicunya meliputi:

  • Kehamilan
  • Penggunaan kontrasepsi oral
  • Paparan sinar matahari
  • Obat-obatan tertentu

Melasma ditandai dengan bercak gelap tidak beraturan di wajah, lengan bawah bagian belakang, atau perut.

3. Hiperpigmentasi Pasca-Peradangan (Post-inflammatory Hyperpigmentation)

PIH terjadi setelah kulit mengalami luka atau peradangan, seperti:

  • Luka bakar
  • Jerawat
  • Ruam kulit
  • Luka akibat prosedur kecantikan

Hasilnya? Area kulit yang terkena akan menjadi lebih gelap dan warnanya tidak merata.

4. Flek hitam (Freckles)

Flek hitam adalah bintik kecil 1-2 mm dengan warna seragam, sering muncul di:

  • Wajah
  • Leher
  • Dada
  • Lengan
  • Kaki

Munculnya freckles dipengaruhi oleh paparan sinar matahari sejak masa kanak-kanak. Jangan salah, flek hitam ini berbeda dengan lentigo juvenil dan lentigo solaris, yang ukurannya lebih besar dan muncul di usia lebih lanjut. 

5. Hiperpigmentasi Maturasional (Maturational Hyperpigmentation)
Jenis hiperpigmentasi ini biasanya terjadi secara bertahap akibat paparan sinar matahari kronis atau dikarenakan penyakit metabolik, terutama pada orang dengan kulit lebih gelap. Biasanya muncul di sisi wajah dan lebih sering terjadi saat memasuki usia dewasa.

6. Hiperpigmentasi Periorbital (Periorbital Hyperpigmentation)
Sering disebut sebagai lingkaran hitam di bawah mata, kondisi ini membuat area sekitar mata tampak lebih gelap. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari faktor genetik, kurang tidur, hingga paparan sinar matahari yang berlebihan.

7. Acanthosis Nigricans
Kondisi ini menyebabkan penggelapan kulit di area yang sering bergesekan, seperti:

  • Ketiak
  • Selangkangan
  • Belakang leher

Biasanya, kondisi ini berhubungan dengan resistensi insulin atau diabetes tipe 2.


Apa Saja Penyebab Hiperpigmentasi?

Penyebab hiperpigmentasi tergantung pada jenisnya berikut ini adalah penyebab yang paling umum yaitu:

1. Paparan sinar matahari 
Saat kulit terpapar sinar UV dalam waktu lama, tubuh akan memproduksi lebih banyak melanin sebagai bentuk perlindungan. Sayangnya, produksi melanin yang berlebihan ini bisa menyebabkan munculnya noda usia (age spots) atau noda matahari (sun spots), terutama di area yang sering terkena sinar matahari seperti wajah, tangan, dan bahu.

2. Peradangan kulit
Kulit bisa menjadi lebih gelap setelah mengalami peradangan akibat:

  • Jerawat
  • Eksim
  • Lupus
  • Cedera atau luka pada kulit

Orang dengan kulit lebih gelap lebih rentan mengalami hiperpigmentasi pasca-peradangan, karena produksi melanin mereka lebih tinggi secara alami.

3. Faktor hormonal
Bercak kulit yang lebih gelap dapat terbentuk ketika seseorang mengalami perubahan hormon. Jenis hiperpigmentasi ini umum terjadi selama kehamilan dan umumnya dalam bentuk melasma.

4. Reaksi terhadap penggunaan obat-obatan
Obat-obatan tertentu, seperti obat antimalaria dan antidepresan trisiklik, dapat menyebabkan hiperpigmentasi. Dalam kasus ini, bercak kulit dapat berubah menjadi abu-abu.

5. Bahan kimia dalam perawatan topikal
Kadang-kadang, bahan kimia dalam perawatan topikal juga dapat menyebabkan hiperpigmentasi.

6. Kondisi Medis
Hiperpigmentasi juga bisa menjadi gejala dari penyakit tertentu, seperti:

  • Penyakit Addison → Gangguan pada kelenjar adrenal yang menyebabkan kulit menggelap, terutama di area lipatan kulit, bibir, siku, lutut, buku jari, dan bagian dalam pipi.
  • Hemokromatosis → Kondisi genetik yang menyebabkan kelebihan zat besi dalam tubuh, yang bisa membuat kulit tampak lebih gelap atau kecoklatan. Hiperpigmentasi ini terjadi jika kadar zat besi dalam tubuh meningkat hingga lima kali lipat dari batas normal.

Perawatan untuk Mengatasi Hiperpigmentasi

Hiperpigmentasi umumnya tidak berbahaya dan dalam beberapa kasus tidak memerlukan perawatan sama sekali. Namun, bagi yang ingin mengurangi atau menghilangkannya, ada berbagai perawatan topikal yang mengandung bahan aktif untuk mencerahkan kulit. Berikut beberapa bahan yang paling umum digunakan dalam produk perawatan hiperpigmentasi:

Arbutin
Arbutin adalah ekstrak hidrokuinon glikosida dari tanaman keluarga bearberry yang memiliki sifat antibakteri.

Mekanisme: Inhibitor tirosinase. 

Efek samping: Penggelapan kulit pada konsentrasi yang lebih tinggi (baik akibat arbutin bertindak sebagai substrat untuk tirosinase atau mengurangi pelepasan melanin dari melanosit, yang menyebabkan akumulasi di dalam sel) dan iritasi kulit lokal.

Asam Azelaik
Asam azelaik adalah asam dikarboksilat alami yang ditemukan pada gandum, biji gandum, jelai, dan biji-bijian utuh lainnya. Asam azelaik dianggap dapat menargetkan melanosit yang terlalu aktif, terbukti dari tidak adanya pengurangan pigmen pada kulit yang memiliki pigmentasi normal. Meskipun umumnya digunakan untuk mengobati jerawat dan rosacea, asam azelaik 20%  lebih efektif terhadap hidrokuinon 4% dalam mengurangi melasma.

Mekanisme: Menghambat tirosinase, mengurangi oksidoreduktase mitokondria, efek antiproliferatif dan sitotoksik selektif pada melanosit  dan mengurangi pembentukan radikal bebas.  

Bakuchiol  
Bakuchiol adalah suatu bahan fitokimia yang memiliki sifat antimikroba, antiinflamasi, antioksidan, dan mirip estrogen. Bakuchiol adalah fenol meroterpenoid yang ditemukan pada tumbuhan, seperti biji dari herba Psoralea corylifolia. Bakuchiol juga telah ditelitii untuk pengobatan jerawat dan PIH yang terkait dengan jerawat. Mengingat efek anti-penuaan dan anti-jerawatnya, bakuchiol dapat menjadi tambahan yang berguna bagi mereka yang juga ingin mengobati perubahan kulit terkait penuaan dan jerawat.

Mekanisme: Belum pasti; kemungkinan menginduksi regulasi ekspresi gen seperti retinol dan menghambat melanogenesis in vitro. 

Sisteamin
Dengan adanya kekhawatiran dari FDA mengenai hidrokuinon yang dijual bebas, sisteamin topikal telah menjadi alternatif yang semakin populer. Sisteamin adalah produk turunan dari l-sistein dan senyawa tiol yang secara alami terdapat dalam tubuh manusia. Sisteamin juga dapat digunakan untuk PIH dan lentigines (bintik hitam atau cokelat yang muncul di permukaan kulit). Sisteamin memiliki bau khas belerang yang telah dikurangi pada formulasi terbaru, meskipun belum sepenuhnya hilang.

Mekanisme: Menghambat tirosinase dan peroksidase, yang mengurangi sintesis melanin dan meningkatkan kadar glutathione intraseluler, mengubah produksi eumelanin menjadi pheomelanin yang lebih terang, mengikat ion logam yang diperlukan untuk sintesis melanin dan mengikat dopaquinone (prekursor melanin).

Asam Glikolat
Asam glikolat adalah bahan OTC (Over the Counter) umum yang telah terbukti efektif dalam memperbaiki dispigmentasi dan perubahan kulit terkait penuaan. Asam ini merupakan α-hidroksi asam terkecil dan karena ukurannya yang kecil serta penetrasi yang sangat baik, asam glikolat sering digunakan dalam berbagai produk kosmetik untuk meningkatkan permeabilitas stratum korneum.

Mekanisme: Mempercepat pengelupasan dan menghilangkan pigmen epidermal yang berlebihan, destruksi lapisan kulit yang terkontrol tergantung pada kedalaman pengelupasan, meningkatkan pergantian keratinosit. 

Efek samping: Iritasi ringan (eritema, pengelupasan, dan kekeringan).

Melatonin
Melatonin adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar pineal sebagai respons terhadap keadaan yang gelap. Dalam sebuah studi, ditemukan bahwa seseorang dengan melasma memiliki stres oksidatif yang lebih tinggi serta kekurangan melatonin dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Mekanisme: Menghambat ekspresi reseptor hormon yang menstimulasi pembentukan α-melanosit; antioksidan potensial dengan menghambat zat radikal yang disebabkan oleh UV sehingga dapat mencegah hiperpigmentasi yang disebabkan oleh sinar UV.

Niacinamide
Niacinamide topikal adalah turunan dari niasin (vitamin B3) dan ditemukan dalam jaringan tanaman dan hewan sebagai bagian dari nukleotida NAD dan NADP. Produk OTC yang mengandung niacinamide dapat memiliki konsentrasi yang bervariasi. Formulasi yang umum ditemukan berkisar antara 2% - 20%, tetapi konsentrasi yang efektif kemungkinan berada di kisaran 5% - 10%. Yang perlu dicatat, niacinamide tidak memiliki efek langsung pada tirosinase melanosit dan hal inilah yang membedakannya dari sebagian besar agen pencerah kulit lainnya. Manfaat lainnya adalah mengurangi peradangan, peningkatan fungsi pelindung kulit (dengan meningkatkan sintesis ceramides dan mencegah hilangnya kolagen dermis), dan efek fotoprotektif (menghambat fotokarsinogenesis dan fotoimunosupresi).

Mekanisme: Menghambat fagositosis keratinosit dan mengurangi transfer melanosom dari melanosit ke keratinosit.  

Efek samping: Eritema, pruritus, sensasi terbakar pada konsentrasi yang tinggi.

Retinoid
Mekanisme: Mengikat reseptor asam retinoid intraseluler, mengarah pada penghambatan tirosinase, pengurangan transfer melanosom antara melanosit dan keratinosit, serta meningkatkan pergantian sel epidermal. 

Efek samping: Dermatitis retinoid: Pengelupasan, eritema lokal, sensasi terbakar, dan pruritus serta risiko hiperpigmentasi pasca-inflamasi.

Retinoid terdiri dari senyawa yang berasal dari vitamin A atau yang memiliki kesamaan struktural atau fungsional. Retinoid OTC meliputi ester retinil, retinol, retinaldehid, dan adapalen. 

Semakin banyak langkah yang dibutuhkan untuk mengubah retinoid menjadi bentuk aktifnya yaitu asam retinoat, semakin rendah efektivitasnya, namun tolerabilitas dan stabilitasnya meningkat. Misalnya, ester retinil memiliki stabilitas tertinggi dan peluang terkecil untuk menyebabkan dermatitis retinoid. Namun, ester retinil juga paling kurang kuat karena banyaknya langkah yang dibutuhkan untuk mengkonversinya menjadi asam retinoat.

Saat memulai penggunaan retinoid, konsumen sebaiknya memulai dengan pemakaian beberapa kali seminggu dan secara bertahap meningkat menjadi penggunaan harian sesuai toleransi kulit. Mengingat sifat fotolabilitas retinoid, perlindungan dari sinar matahari (photoprotection) harus digunakan jika produk ini diaplikasikan pada siang hari. Sebagai alternatif, produk ini dapat digunakan hanya pada malam hari.

Perlu dicatat, berbeda dengan tretinoin, granactive retinoids, retinol, dan adapalene tidak akan dinonaktifkan oleh benzyl peroxide, sehingga produk-produk ini dapat digunakan bersamaan.

Thiamidol
Thiamidol, yang merupakan turunan thiazole-resorcinol, dikembangkan sebagai alternatif untuk hidrokuinon dalam perawatan kulit yang mengalami hiperpigmentasi. Thiamidol adalah penghambat yang kuat untuk enzim tirosinase manusia, dan studi in vitro menunjukkan penghambatan tirosinase yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam kojik, arbutin, dan hidrokuinon. Efek samping yang dilaporkan lebih sedikit dengan menggunakan thiamidol dibandingkan hidrokuinon. Thiamidol juga menunjukkan manfaat dalam mencegah hiperpigmentasi yang disebabkan oleh paparan UVB. Studi lain menunjukkan perbaikan yang signifikan untuk hiperpigmentasi pasca jerawat (PIH) dan hiperpigmentasi disebabkan oleh luka pada kelompok yang melakukan perawatan dengan thiamidol.

Mekanisme: Penghambat tirosinase manusia.

Asam Traneksamat (TXA)
Asam traneksamat (TXA) adalah suatu inhibitor plasmin yang diturunkan secara sintetik dari asam amino lisin. Konsentrasi umum TXA topikal berkisar antara 3% hingga 5%, tetapi tersedia hingga 10%. Namun di Indonesia, BPOM mengatur konsentrasi tertinggi asam traneksamat yang diperbolehkan dalam sediaan topikal adalah 3%.

Mekanisme: TXA menghalangi ikatan plasminogen ke keratinosit, mengurangi aktivitas tirosinase melanosit, mengurangi kadar asam arakidonat dan prostaglandin yaitu suatu mediator pada proses inflamasi yang mengarah ke proses melanogenesis.

Vitamin C (Asam Askorbat)
Mekanisme: Menghambat tirosinase melalui interaksi dengan ion tembaga di sisi aktif tirosinase.  

Efek samping: Iritasi (sensasi terbakar, perih, pengelupasan, dan pruritus), lebih sering pada konsentrasi >20%.

Vitamin C, yang juga dikenal sebagai asam askorbat, adalah vitamin yang larut dalam air dan diperlukan untuk berbagai proses biokimia. Selain itu, vitamin C memiliki efek antioksidan yang kuat, namun sangat tidak stabil dalam larutan berair. Ketika asam askorbat yang tidak berwarna teroksidasi oleh cahaya, ia berubah menjadi asam dehidroaskorbat berwarna kuning dan kemudian menjadi produk samping yang tidak aktif, yaitu 2,3-diketo-l-gulonat asam. 

Formulasi topikal vitamin C bervariasi antara 1% hingga 20% dan paling efektif pada konsentrasi lebih dari 8%, namun dapat menyebabkan iritasi (seperti rasa terbakar, perih, pengelupasan, dan gatal) ketika konsentrasi lebih dari 20%. Vitamin C sering kali dipadukan dengan bahan lain seperti vitamin E (α-tokoferol), florentin, asam ferulat, neohesperidin dihidrochalcone, dan tokoferil asetat untuk membantu meningkatkan stabilitasnya.

Pastikan kemasan produk berwarna gelap untuk meminimalkan oksidasi bahan aktif, simpan produk di kulkas dan tempat yang gelap untuk memperpanjang umur simpan produk, dan rapatkan tutup setelah penggunaan produk.


Perawatan Pigmentasi Kulit Modern dan Teknologi Baru yang Menjanjikan

Selain secara topikal untuk meningkatkan hasil perawatan, kamu bisa melakukan konsultasi dengan dokter ahli/dermatologi untuk menambahkan satu atau lebih prosedur berikut:

  • Krim pemutih dengan resep yang mengandung hidrokuinon, asam traneksamat, tretinoin, steroid topikal, atau kombinasi dari bahan-bahan ini.

Penting untuk dicatat bahwa penggunaan bahan-bahan ini harus diawasi oleh dokter kulit, karena beberapa bahan dapat menyebabkan efek samping jika digunakan secara tidak tepat atau dalam jangka waktu panjang. Selain itu, perlindungan dari paparan sinar matahari sangat penting saat menggunakan produk pemutih kulit, karena sinar UV dapat memperburuk pigmentasi kulit.

  • Chemical peel (Pengelupasan kimia): Dalam prosedur ini, dokter kulit akan mengoleskan larutan kimia pada kulit yang terhiperpigmentasi seperti melasma. Prosedur ini dapat membantu mengurangi kelebihan pigmen pada kulit.

  • Microneedling: Prosedur minimal invasif ini menciptakan robekan mikroskopis pada kulit kamu. Ketika kulit sembuh, biasanya akan memiliki warna kulit yang lebih merata.

  • Perawatan laser dan cahaya (Laser and light treatments): Beberapa penelitian menemukan bahwa menambahkan perawatan laser atau cahaya dapat meningkatkan hasil bagi pasien yang sudah mengaplikasikan obat pada kulit mereka dan melindungi kulit dari paparan sinar matahari.

  • Plasma kaya trombosit (Platelet-rich plasma/PRP): Prosedur ini melibatkan pengambilan sedikit darah kamu, memasukkan darah ke dalam mesin yang memisahkan darah menjadi lapisan-lapisan, dan kemudian menyuntikkan lapisan darah yang dikenal sebagai plasma ke dalam kulit yang memiliki melasma. Ini dapat membantu meratakan warna kulit kamu.

Ingat ya, The One! Hanya dokter kulit bersertifikat yang seharusnya melakukan prosedur perawatan medis untuk hiperpigmentasi. Diperlukan pemahaman mendalam tentang kondisi kulit agar hasil yang diinginkan bisa tercapai dengan aman dan efektif.

Hiperpigmentasi memang bisa bikin kurang percaya diri, tapi dengan memahami jenis dan penyebabnya, kamu bisa memilih perawatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan kulitmu. Yang paling penting, selalu lindungi kulit dari paparan sinar matahari dan gunakan bahan perawatan yang aman agar kondisinya tidak semakin parah.

Dengan langkah perawatan yang konsisten dan tepat, kulitmu bisa kembali cerah, sehat, dan tampak lebih muda!


SUMBER

https://www.aad.org/public/diseases/a-z/melasma-treatment

https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/demystifying-hyperpigmentation-causes-types-and-effective-treatments

https://www.verywellhealth.com/skin-pigmentation-5088368

Jafry, M., Guan, L,L., Mohammad, T,F. 2024. A practical guide to over-the-counter treatments for hyperpigmentation. European Academy of Dermatology & Venereology. https://doi.org/10.1002/jvc2.385

Moolla, S., Miller-Monthrope, Y. 2022. Dermatology: how to manage facial hyperpigmentation in skin of colour. Drugs Context. 11:2021-11-2. doi: 10.7573/dic.2021-11-2

Plensdorf, S, Livierator, M, Dada, N. 2017. Pigmentation Disorders: Diagnosis and Management. American Family Physician. 96(12):797-804.

Thawabteh, A.M., et al. 2023. Skin Pigmentation Types, Causes and Treatment—A Review. Molecules. 28(12):4839. doi: 10.3390/molecules28124839