Vegan Skincare – Tren atau Kesadaran?

Banyak produk memiliki klaim seperti “vegan”, “alami”, dan “cruelty-free”. Apa sebenarnya arti dari label-label ini? Kesalahan umum yang sering terjadi adalah menganggap bahwa produk perawatan kulit alami secara otomatis juga vegan. Demikian pula, istilah cruelty-free tidak selalu berarti bahwa suatu produk bersifat vegan. Istilah tersebut hanya menunjukkan bahwa bahan-bahannya tidak diuji pada hewan oleh pemasok, produsen, atau pihak ketiga mana pun. Beberapa merek mungkin cruelty-free dan alami tanpa bersifat vegan, dan sebaliknya.
Vegan skincare adalah tentang lebih dari sekadar penampilan. Ini adalah bagian dari gaya hidup yang peduli terhadap lingkungan, kesejahteraan hewan, dan kesehatan jangka panjang. Masyarakat kini mulai bertanya: "Apa yang ada di balik produk yang saya pakai setiap hari?"
Apa Itu Vegan Skincare?
Secara sederhana, produk vegan adalah produk yang tidak mengandung bahan hewani atau turunan hewan dalam formulanya.
Contoh bahan non-vegan yang sering ditemukan dalam skincare konvensional:
-
Madu – dihasilkan oleh lebah, sering digunakan untuk efek melembapkan.
-
Beeswax – lilin dari sarang lebah, umum pada lip balm dan lotion.
-
Lanolin – minyak dari wol domba, digunakan untuk hidrasi.
-
Kolagen – protein hewani yang digunakan untuk anti-aging.
Namun, teknologi dan inovasi telah memungkinkan hadirnya alternatif vegan:
Alternatif bahan vegan:
-
Aloe vera (lidah buaya) – pelembap alami yang menenangkan.
-
Minyak tumbuhan seperti jojoba, zaitun, kelapa – kaya akan antioksidan.
-
Soy protein (protein kedelai) – meningkatkan elastisitas kulit.
-
Synthetic peptides – dibuat di laboratorium untuk menggantikan fungsi kolagen.
Manfaat Holistik Vegan Skincare
Manfaat untuk Kulit dan Kesehatan
Memilih vegan skincare bukan sekadar mengikuti tren, tetapi merupakan keputusan sadar menuju gaya hidup yang lebih etis dan berkelanjutan.
Keunggulan utama:
-
Lembut untuk kulit
Produk vegan umumnya menggunakan bahan alami yang lebih minim risiko iritasi, terutama bagi kulit sensitif. -
Peduli terhadap Kesejahteraan Hewan
Dalam proses produksinya, vegan skincare tidak melibatkan pengujian pada hewan. Ini mencerminkan nilai kemanusiaan dan empati terhadap makhluk hidup, serta mendukung industri yang lebih etis. -
Formulasi yang Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan
Penggunaan bahan daur ulang (upcycled), sumber daya terbarukan, dan praktik keberlanjutan menjadikan produk ini lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. -
Kaya Nutrisi Alami
Bahan nabati yang mengandung nutrisi penting yang membantu merawat kulit, rambut, dan kuku.
Sebaliknya, produk non-vegan seringkali mengandung bahan kimia yang memiliki potensi risiko:
Bahan kimia berbahaya:
-
Paraben – pengawet yang dapat mengganggu sistem endokrin.
-
Phthalate – biasa ada di parfum, dikaitkan dengan masalah hormon.
-
Formaldehida – pengawet yang berpotensi karsinogenik.
-
Pewarna sintetis – bisa menyebabkan kemerahan atau ruam.
Beralih ke skincare vegan berarti kamu menghindari bahan-bahan ini dan memberi kulit kamu nutrisi dari sumber yang lebih alami dan transparan.
Dampak Positif untuk Lingkungan
Salah satu manfaat terbesar dari kosmetik vegan adalah jejak ekologisnya yang lebih rendah.
-
Peternakan hewan merupakan salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca global.
-
Vegan skincare menggunakan bahan dari tanaman yang biasanya lebih cepat tumbuh dan memerlukan lebih sedikit air dan energi untuk diproduksi.
-
Banyak brand juga mengadopsi kemasan daur ulang dan proses produksi ramah lingkungan.
Memahami Label: Vegan, Organik, Alami, dan Cruelty-Free
Sering kali, istilah vegan dan natural disalahartikan. Faktanya:
-
Produk vegan bisa mengandung bahan sintetis asal tidak berbasis hewan.
-
Produk alami bisa saja menggunakan bahan hewani seperti madu atau lanolin.
Artinya, produk alami tidak selalu vegan, dan produk vegan tidak selalu alami. Keduanya memiliki nilai masing-masing, dan pemahaman yang baik akan membantu konsumen memilih produk sesuai kebutuhan dan nilai pribadi.
Bahan sintetis yang berasal dari petrokimia tidak diperbolehkan dalam standar alami, tetapi dapat diizinkan oleh sertifikasi vegan selama tidak ada pengujian pada hewan yang dilakukan.
Hal ini memang bisa membingungkan, sehingga kami membuat gambar ini untuk menunjukkan perbedaan antara produk vegan dan alami, serta di mana keduanya dapat saling bertemu.
Terdapat simbol dan sertifikasi khusus pada produk vegan dan/atau alami yang memastikan produk tersebut telah memenuhi kriteria tertentu dari lembaga sertifikasi yang berwenang.
Vegan
Istilah vegan berarti suatu bahan tidak berasal dari hewan. Contoh bahan non-vegan antara lain telur, shellac (resin dari serangga), dan rambut hewan. Merek dapat memperoleh sertifikasi vegan dari berbagai organisasi. Namun, istilah "vegan" belum didefinisikan secara resmi di banyak negara, dan regulasi pelabelan bervariasi tergantung wilayah.
Organik
Istilah organik dapat berarti bahan berasal dari organisme hidup. Istilah ini juga dapat merujuk pada produk yang diproduksi tanpa pestisida dan agen buatan lainnya.
FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) tidak mengatur penggunaan kata "organik" pada kemasan. Artinya, produk yang diberi label "organik" tidak secara otomatis dapat dipertanggungjawabkan. Namun, USDA (Departemen Pertanian Amerika Serikat) dapat memberikan sertifikasi organik jika produk memenuhi standar yang telah ditetapkan. Jika Anda mencari produk organik, sebaiknya perhatikan simbol resmi sertifikasi organik dari USDA.
Alami
Istilah alami merujuk pada produk yang menggunakan bahan dari sumber alami, dengan kata lain, tidak mengandung bahan buatan atau sintetis.
Sama seperti istilah "organik", istilah "alami" juga tidak diatur secara resmi. Meskipun kita cenderung menganggap produk alami lebih baik bagi kita, hal tersebut tidak selalu benar.
Cruelty-Free
Cruelty-free berarti perusahaan tidak menyakiti atau melakukan pengujian pada hewan. Perusahaan dapat memperoleh sertifikasi cruelty-free dari organisasi seperti Cruelty Free International dan Leaping Bunny.
Banyak negara bahkan telah melarang pengujian pada hewan secara keseluruhan. Uni Eropa, Korea Selatan, Australia, Meksiko, dan lainnya telah menghapus praktik ini. Per tahun 2023, merek kosmetik di Tiongkok kini juga dapat memperoleh sertifikasi cruelty-free. Sebelumnya, Tiongkok mewajibkan pengujian hewan untuk produk kosmetik tertentu.
Menggunakan produk perawatan kulit vegan bukan hanya tentang kecantikan luar, tetapi juga keputusan sadar untuk mendukung industri yang lebih etis dan berkelanjutan. Lihat efeknya. Rasakan perbedaannya. Dunia akan jadi sedikit lebih baik—dimulai dari kulit Anda.
Sumber
https://www.schoolofnaturalskincare.com/vegan-skincare-doesnt-mean-natural-skincare/
https://skinsort.com/blog/all-about-cosmetic-labels
https://www.vinoble-cosmetics.at/en/blog/post/vegan-skincare?srsltid=AfmBOoozqQtj8oDHgHcwZC_CtUqlkxatzwaAvRuecYTK6ONzlw3yVICA